Tipe-tipe Pemecah Gelombang
 
Dari jenis PGLP maupun PGSP, terdapat tiga tipe pemecah gelombang yakni pemecah gelombang sisi miring, pemecah gelombang sisi tegak dan campuran keduanya.

a.  Pemecah Gelombang Sisi Miring (PGSM)
 
PGSM biasanya terbuat dari tumpukan batu alam, blok beton, gabungan antara blok beton dengan batu pecah, serta batu buatan dari beton dengan bentuk khusus seperti Tetrapod, Quadripod, Tribars, Dolos, dan sebagainya. Pemecah gelombang jenis ini banyak digunakan di Indonesia sebab sebagian besar dasar laut di perairan Indonesia terdiri dari tanah lunak (soft clay) serta tersedianya batu alam sebagai bahan utama PGSM. Pada bagian atas PGSM dilengkapi dengan dinding beton yang berfungsi untuk menahan limpasan air di atas bangunan.

Ada dua macam PGSM,yaitu :
  • Overtopping Breakwater 
Merupakan pemecah gelombang yang direncanakan dengan memperkenankan air melimpas di atas pemecah gelombang. Pemecah gelombang tipe ini biasanya direncanakan apabila di daerah yang dilindungi tidak begitu sensitif terutama terhadap gelombang yang terjadi akibat adanya overtopping.
  • Non-Overtopping Breakwater
Merupakan pemecah gelombang yang direncanakan dengan tidak memperkenankan air melintas di atas bangunan tersebut. Pemecah gelombang ini direncanakan apabila daerah yang dilindungi sensitif terhadap gelombang jika terjadi overtopping.

b. Pemecah Gelombang Sisi Tegak (PGST)
 
PGST dibuat apabila tanah dasar (seabed) mempunyai daya dukung yang besar dan tahan terhadap erosi. Apabila seabed mempunyai lapisan atas berupa lumpur atau pasir halus, maka lapisan tersebut harus dikeruk terlebih dahulu kemudian dibuat pondasi dari tumpukan batu untuk menyebarkan beban pada luasan yang lebih besar. Dasar tumpukan batu ini dibuat agak lebar sehingga kaki bangunan dapat lebih aman terhadap penggerusan.

PGST dapat dibuat dari blok-blok beton massa yang disusun secara vertikal, kaison beton, turap beton, baja dan sebagainya. Suatu blok beton mampunyai berat antara 10 sampai 50 ton.

Dalam perencanaan pemecah gelombang sisi tegak, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  • Tinggi gelombang maksimum yang direncanakan harus ditentukan dengan baik, karena stabilitas PGST terhadap penggulingan merupakan faktor penting. 
  • Tinggi dinding harus cukup untuk memungkinkan terjadinya Clapotis, yaitu superposisi antara gelombang datang dan gelombang pantul menjadi gelombang stasioner.
  • Pondasi bangunan harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terjadi erosi pada kaki bangunan yang dapat membahayakan stabilitas bangunan.
c. Pemecah Gelombang Campuran (PGC)
 
Pada dasarnya, terdapat tiga Pemecah gelombang campuran terdiri dari PGST yang dibuat di atas pemecah gelombang tumpukan batu (rubble mound). Bangunan ini dibuat apabila kedalaman air macam PGC, yaitu :
  • Tumpukan batu dibuat sampai setinggi muka air tertinggi, sedangkan bangunan sisi tegak hanya sebagai penutup bagian atas. 
  • Tumpukan batu dibuat setinggi muka air terendah sedangkan bangunan tegak harus menahan air tertinggi (pasang).

REVETMENT

Revetment atau didinding pantai adalah bangunan yang memisahkan daratan dan perairan pantai, yang terutama berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping) ke darat. Daerah yang dilindungi adalah daratan tepat di belakang bangunan. Permukaan bangunan yang mengahadap arah datangnya gelombang dapat berupa sisi vertikal atau miring. Dinding pantai biasanya berbentuk dinding vertikal, sedang revetment mempunyai sisi miring. Bangunan ini ditempatkan sejajar atau hampir sejajar dengan garis pantai dan bisa terbuat dari pasangan batu, beton, tumpukan pipa (buis) beton, turap, kayu, atau tumpukan batu. Gambar 2.5 menunjukkan penempatan revetment dan bentuk tampang lintangnya. Bangunan tersebut terbuat dari tumpukan batu dengan lapis luarnya terdiri dari batu dengan ukuran yang lebih besar.
Revetment
Revetment
Dalam perencanaan revetment, perlu ditinjau fungsi dan bentuk bangunan, lokasi, panjang, tinggi, stabilitas bangunan, dan tanah fondasi, elevasi muka air baik di depan maupun di belakang bangunan, ketersediaan bahan bangunan, dan sebagainya.

Fungsi bangunan akan menentukan pilihan bentuk. Permukaan bangunan dapat berbentuk sisi tegak, miring, lengkung atau bertangga. Bangunan sisi tegak dapat juga digunakansebagai dermaga atau tempat penambatan kapal. Tetapi sisi tegak kurang efektif terhadap serangan gelombang terutama terhadap limpasan dibanding dengan bentuk lengkung (konkaf). Pemakaian sisi tegak dapat mengakibatkan erosi yang cukup besar atau dasar bangunan berada di air dangkal. Untuk mencegah erosi tersebut, diperlukan perlindungan didasar bangunan yang berupa batu dengan ukuran dan gradasi tertentu. Untuk mencegah keluarnya butir-butir tanah halus melalui sela-sela batuan yang dapat berakibat terjadinya penurunan bangunan, pada dasar fondasi diberi lapis geotextile. Sisi miring dan kasar dapat menghancurkan dan menyerap energi gelombang, mengurangi kenaikan gelombang, (wave runup), limpasan gelombang dan erosi dasar. Bangunan dengan sisi lengkung konkaf adalah yang paling efektif untuk mengurangi limpasan gelombang. Apabila puncak bangunan digunakan untuk jalan atau maksud lain, bentuk ini merupakan yang paling baik untuk perlindungan puncak bangunan.

Seperti telah dijelaskan bahwa salah satu fungsi utama revetment adalah menahan terjadinya limpasan gelombang. Air yang melimpas di belakang bangunan akan terinfiltrasi melalui permukaan tanah dan mengalir kembali ke laut. Apabila perbedaan elevasi muka air di belakang dan di depan bangunan cukup besar dapat menimbulkan kecepatan aliran cukup besar yang dapat menarik butiran tanah di belakang dan pada fondasi bangunan (piping). Keadaan ini dapat mengakibatkan rusak/runtuhnya bangunan. Penaggulangan dari keadaan tersebut dapat dilakukan dengan 1) membuat elevasi puncak bangunan cukup tinggi sehingga tidak terjadi limpasan, 2) di belakang bangunan dilindungi dengan lantai beton atau aspal dan dilengkapi dengan saluran drainase, atau 3) dengan membuat konstruksi yang dapat menahan terangkutnya butiran tanah/pasir, misalnya dengan menggunakan geotextile yang berfungsi sebagai saringan.

Di dalam perencanaan revetement perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya erosi di kaki bangunan. Kedalaman erosi yang terjadi tergantung pada bentuk sisi bangunan, kondisi gelombang dan sifat tanah dasar. Untuk melindungi erosi tersebut maka pada kaki bangunan ditempatkan batu pelindung. Selain itu pada bangunan sisi tegak harus dibuat turap yang terpancang di bawah sisi depan bangunan yang berfungsi untuk mencegah gerusan di bawah bangunan.Kedalaman erosi maksimum terhadap tanah dasar asli adalah sama dengan tinggi gelombang maksimum yang mungkin terjadi di depan bangunan.

 
Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Gambar di atas adalah dinding pantai, yang  bisa terbuat dari beton atau pasangan batu. Bangunan masif ini digunakan untuk menahan gelombang besar dan tanah dasar relatif kuat. Apabila tanah dasar relatif  lunak, maka diperlukan fondasi tiang. 

Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Gambar di samping adalah dinding pantai dengan sisi tegak yang bisa terbuat dari turap baja, kayu atau bambu. Bangunan ini dapat juga dimanfaatkan sebagai dermaga untuk merapat atau bertambatnya perahu-perahu/kapal kecil pada saat laut tenang. Untuk menahan tekanan tanah di belakangnya, turap tersebut diperkuat dengan angker. Kaki bangunan harus dilindungi dengan batu pelindung. 




Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Gambar di samping adalah contoh dinding pantai yang terbuat dari tumpukan bronjong. Bronjong adalah anyaman kawat berbentuk kotak yang didalamnya diiisi batu.. Bangunan ini bisa menyerap energi gelombang, sehingga elevasi puncak bangunan bisa rendah (runup kecil). Kelemahan bronjong adalah korosi dari kawat anyaman, yang merupakan faktor pembatas dari umur bangunan. Supaya bisa lebih awet, kawat anyaman dilapisi dengan plastik.

 
Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Gambar di atas adalah revetment dari tumpukan batu pecah yang dibuat dalam beberapa lapis. Lapis terluar merupakan lapis pelindung terbuat dari batu dengan ukuran besar yang direncanakan mampu menahan seranggan gelombang. Lapis di bawanya terdiri dari tumpukan batu dengan ukuran yang lebih kecil. Bangunan ini merupakan konstruksi fleksibel yang dapat mengikuti penurunan atau konsolidasi tanah dasar. Kerusakan yang terjadi seperti longsornya batu pelindung, mudah diperbaiki dengan menambah batu pelindung tersebut. Oleh karena itu diperlukan persediaan baut pelindung di lokasi bangunan. 

 
Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Beberapa bentuk dinding pantai/Revetment
Gambar di atas dalah revetment yang terbuat dari tumpukan pipa (buis) beton. Bangunan pelindung pantai dari susunan pipa beton telah banyak digunakan di  Indonesia, seperti beberapa pantai di Manado, Pangandaran, Pekalongan, Tuban, Bali, dan beberapa daerah lainnya. Bangunan ini terbuat dari pipa beton yang berbentuk bulat, yang banyak dijumpai di pasaran dan biasanya digunakan untuk membuat gorong-gorong

1 comments:

 
Top